Yuk Bahas Esai "How to Profit by One's Enemies"

 Judul artikel How to Profit by One's Enemies diambil dari esai klasik yang pernah ditulis Plutarch. Plutarch, seorang filsuf Yunani, berpendapat bahwa teman sering kali menutup mata terhadap kekurangan kita karena rasa sungkan atau kasih sayang. Sebaliknya, musuh akan mencari dan mengekspos setiap kesalahan kita. Dengan memperhatikan kritik dari musuh, kita dipaksa untuk memperbaiki diri agar tidak ada lagi celah untuk diserang.

Mengenal Profil Plutarch

Plutarch (atau Plutarchos) adalah seorang "influencer" intelektual paling berpengaruh dari era Kekaisaran Romawi, meskipun ia sendiri adalah orang Yunani. Bayangkan dia sebagai jurnalis profil, sejarawan, sekaligus konselor pengembangan diri yang hidup sekitar tahun 46–120 Masehi.




Moralia, Volume II berisi esai "How to Profit by One's Enemies

Poin Penting How to Profit by One's Enemies

Esai Plutarch dapat diartikan dalam bahasa Indonesia yaitu Cara Mengambil Keuntungan dari Musuh . Karya tersebut merupakan salah satu filsafat praktis yang paling menarik dari era Yunani Kuno. Plutarch tidak menyarankan kita untuk mencintai musuh secara emosional, melainkan menggunakan keberadaan mereka secara intelektual dan moral. Esai tersebut termasuk didalam 78 esai yang diberi nama Moralia (tentang cara hidup).

Berikut adalah poin-poin penting dari esai tersebut:



1. Musuh Sebagai "Cermin" yang Paling Jujur

Plutarch berargumen bahwa teman sering kali bias. Karena rasa sayang atau takut menyinggung, teman cenderung menutupi atau mengabaikan kekurangan kita.

Berbeda dengan musuh yang akan mencari setiap celah, kesalahan, dan kelemahan kita untuk menjatuhkan kita. Jika kita mendengarkan kritik (meskipun niatnya jahat) dari musuh, kita mendapatkan informasi jujur tentang apa yang perlu kita perbaiki. Musuh melakukan "audit" gratis terhadap karakter kita.

2. Kewaspadaan yang Dipaksakan (Vigilance)

Saat kita tahu ada orang yang membenci kita dan menunggu kita melakukan kesalahan, kita secara alami akan menjadi lebih berhati-hati. Keberadaan musuh memaksa kita untuk hidup lebih disiplin, bermoral, dan profesional.

Kita tidak berani ceroboh karena tahu ada "mata" yang selalu mengintai. Secara tidak langsung, musuh menjaga kita agar tetap berada di jalur yang benar.

3. Mengasah Pengendalian Diri

Berurusan dengan orang yang memusuhi kita adalah latihan terbaik untuk karakter, terutama dalam mengelola kemarahan dan kebencian. Jika kita bisa tetap tenang dan tidak membalas provokasi musuh dengan cara yang rendah, kita sedang melatih otot moral kita.

Ini membangun self-control yang jauh lebih kuat daripada hanya bergaul dengan orang-orang yang selalu setuju dengan kita.

4. Mengubah Rasa Iri Menjadi Keunggulan

Plutarch menyarankan agar kita tidak membalas dendam dengan kekerasan atau makian, melainkan dengan keunggulan diri. Cara terbaik untuk "menyakiti" musuh adalah dengan menjadi orang yang lebih sukses, lebih bahagia, dan lebih baik daripada mereka.

Kebencian mereka menjadi bahan bakar (energi) bagi kita untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi.

5. Menghargai Nilai Kebaikan pada Orang Lain

Menariknya, Plutarch juga menyarankan agar kita memperhatikan jika musuh kita memiliki kualitas yang baik. Jika musuh kita rajin atau berani, kita harus meniru sifat baiknya sambil menghindari sifat buruknya.

Hal Ini membantu kita tetap objektif dan tidak buta karena kebencian, sehingga kita bisa belajar dari siapa pun, bahkan dari lawan sekalipun.



"Orang bijak mendapatkan lebih banyak manfaat dari musuhnya daripada orang bodoh dari teman-temannya."

Banyak orang tidak menyadari bahwa drama-drama besar Shakespeare seperti Julius Caesar, Antony and Cleopatra, dan Coriolanus hampir seluruhnya diambil dari teks terjemahan Plutarch. Shakespeare menggunakan deskripsi detail Plutarch untuk membangun naskahnya. Tanpa Plutarch, mungkin kita tidak akan pernah mendengar pidato legendaris "Friends, Romans, countrymen..."

Filosofi Plutarch ini sangat relevan jika Anda merasa sedang berada di lingkungan yang kompetitif atau penuh tekanan sosial. Alih-alih merasa terbebani oleh "Haters", Plutarch mengajak kita untuk melihat mereka sebagai pelatih pribadi gratis yang sangat teliti.





Perseus Digital Library (Tufts University)

Sumber :

  • Loeb Classical Library (Harvard University Press): Ini adalah standar emas bagi peneliti klasik.
    Moralia, Volume II berisi esai "How to Profit by One's Enemies" (judul asli dalam bahasa Latin: De capienda ex inimicis utilitate).
    Plutarch's Lives (11 Volume) berisi seluruh biografi tokoh Yunani dan Romawi.
  • Perseus Digital Library (Tufts University) - Klik disini
  • Shakespeare's Plutarch" oleh C.F. Tucker Brooke

Yuk Bahas Esai "How to Profit by One's Enemies" Yuk Bahas Esai "How to Profit by One's Enemies" Reviewed by Soezack on Selasa, Maret 24, 2026 Rating: 5

Tidak ada komentar